Cerita Perbatasan 1 (Long Bawan-Long Layu-Pa’Upan-Long Rungan-Long Padi-Binuang)

Langit pagi ini sedikit mendung, entah mengapa ada sedikit keraguan untuk melakukan perjalanan. Pasalnya sudah tiga kali kami gagal terbang dikarenakan cuaca yang kurang bersahabat.

Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WITA, waktu yang dihari biasanya matahari sudah tidak malu menyinari kulit yang sudah mulai menghitam ini, kami bertekad berangkat ke bandara Kol.R.A Bessing di Malinau dengan diantar 2 teman kami.
Kali ini saya berangkat ditemani ibu Ati sebagai tukang masak yang akan memenuhi kebutuhan perut kami di base camp yang katanya berada di tengah hutan, di sebuah desa dekat perbatasan, yaitu Desa Long Rungan.

Perjalanan menuju bandara dari camp kami di Malinau kurang lebih 10 menit. Di perjalanan mendung masih nampak berubah menjadi awan yang cerah. Tiba di bandara kami diantar dua teman kami untuk check in di salah satu maskapai penerbangan yang masih asing di telinga kami, MAF (Mission Aviation Fellowship) atau kita sering menyebutnya dengan pesawat MAF. Kmi harus menunggu beberapa menit karena petugas maskapai belum datang.

Pukul 08.30 WITA petugas datang, kami pun segera check in, berat badan kami ditimbang beserta barang bawaan kami. Pada saat penimbangan barang bawaan kami, ternyata berat yang kami bawa melebihi batas dari yang ditentukan, kelebihan berat barang bawaan kami kurng lebih 19 kg, mau tidak mau sebagian barang bawaan kami diterbangkan esok harinya dengan pesawat Susi Air menuju lokasi berbeda dengan tujuan kami yang sekarang,,, bisa dibayangkan takutnya kami kalau barang tersebut hilaang,,,hmmm.

Penerbangan perintis memang memperhatikan berat barang bawaan seperti ini, karena pesawat yang digunakan adalah pesawat kecil yang muat hanya 6 orang saja, itupun sudah termasuk dengan pilotnya,,hehehe
Selain itu informasi tentang tujuan penerbangan pun bisa berubah dari yang kita pesan, seperti kita saat ini, kemarin kita memesan penerbangan dari Malinau ke Desa Pa ‘Upan, akan tetapi kali ini kita akan diterbangkan ke Desa Long Layu.

Penerbangan dengan pesawat MAF memang seperti ini, hal ini dikarenakan pesawat ini bukan maskapai penerbangan yang bersifat komersil.
Kurang lebih 2 jam kami menunggu, pesawat kami pun datang, nampak pesawat yang kami tumpangi lebih kecil daripada pesawat lainnya yang terparkir di apron bandara. Setelah para kru darat mengambil barang di bagasi pesawat tersebut, kami pun dipersilahkan keluar dari ruang tunggu untuk kemudian naik ke pesawat, alangkah terkejutnya, ternyata besar badan pesawat tidak lebih besar dari badan mobil andalan keluarga alias Avanza,,hahahaha

image
Pilotnya ngajak selfie ni,,,hehehhe

Jujur ada perasaan takut saat hendak menaiki pesawat tersebut. Bismillah,,,,
Dan ternyata saya mendapat kesempatan duduk disamping pak pilot,,,hehehe benar benar pengalaman yang luar biasa menurut saya,, saya jadi sedikit mengetahui proses pemilihan tepat tujuan dengan banyak sekali tombol yang harus di klikk,,hehehhee

image
Pesawat MAF
image
Berasa jadi copilot

Kurang lebih 45 menit kami mengudara, tiba juga kami di Desa Long Layu, tampak dari atas desa ini masih berada di tengah hutan dengan sungai sebagai aksesnya

image
Desa Long Layu dari udara

Kami pun mendarat dengan sedikit goncangan,,, pasalnya runway bandara ini masih berupa tanah berumput dan belum ada perkerasan sama sekali,,,, bersambung,,,

image
Nampak anak - anak mendekati pesawat yang parkir

Sungai Sentaban dan Desa Wisata Setulang, Kabupaten Malinau, Kaltara

Perjalanan dimulai karena sedikit rasa penat akibat duduk terus menerus di kantor, proyek belum ada yang jalan alhasil kami memutuskan jalan-jalan melepas kepenatan, ditambah bos sedang keluar kota, yahh,,, bisa dibilang sedikit free lah,,,heheheh..

Didaerah Malinau ini ada beberapa tempat yang cukup bagus untuk sekedar menghilangkan rasa jenuh akibat pekerjaan yang menumpuk. Kami memutuskan keluar dari kantor untuk mencari udara segar, dengan mengendarai motor menuju ke Desa Setulang dan Sungai Sentaban yang terkenal karena airnya yang jernih.

Petualangan kami berdua pun dimulai, bagi temen temen yang kebetulan berada di Kabupaten Malinau, bisa mencoba berwisata ke Desa Setulang dan mampir ke Sungai Sentaban. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Pelabuhan Speed maupun Bandar Udara Kol. RA Bessing Malinau. Jalan untuk menuju ke sana juga sudah lumayan bagus.

Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang memukau, melihat keindahan hutan asli Kalimantan yang berwarna hijau yang mana daun lebat pohon tampak kentara menutupi bukit bukit yang tinggi menjulang. Udara segar masih bisa kami rasakan, memejamkan mata sebentar membayangkan dan merasakan aliran udara yang segar memasuki tubuh kami, sungguh nikmat Yang Maha Kuasa yang perlu kita syukuri keberadaannya. Tidak lupa pula salam dan senyum sapa penduduk setiap kami melewati permukiman yang masih jauh dari keramaian lalu lalang kendaraan bermotor.

???????????????????????????????
Pintu Masuk Desa Setulang

20150214_132237
Simbol Peresmian

Kurang lebih satu jam perjalanan berlalu, tibalah kami di desa wisata yaitu Desa Setulang. Perhatian Kami tertuju pada bangunan yang terbuat dari kayu yang panjang dan besar. Di depan bangunan tersebut terdapat gapura yang terbuat dari batang kayu yang masih utuh dengan hiasan ukiran asli penduduk sekitar. Halaman depan terdapat taman kecil yang tertata rapi, berpadu dengan rumput dan bunga – bungan kecil.Di sebelah kanan tangga terdapat potongan kayu yang memberi informasi kepada kami tentang peresmian bangunan ini oleh Bupati Malinau DR. Drs. Marthin Billa, MM.

IMG_20150215_010236
Lamin Adat Adjang Lidem Desa Setulang

Masyarakat menyebut bangunan ini sebagai Lamin Adat Adjang Lidem Desa Setulang. Kami berdua mencoba memasuki bangunan tersebut dengan menaiki tangga yang terbuat dari kayu. Pintu besar menyambut kedatangan kami, dengan sebuah gambar seseorang yang mengenakan pakaian adat Kalimantan. Pintu yang mempunyai dua daun pintu ini tertutup salah satunya. Ruangan di dalam Lamin Adat cukup luas, kami mendapat info bahwa tempat ini biasanya digunakan juga untuk latihan menari, namun kami kurang beruntung hari itu, bangunan ini sepi menandakan tidak ada kegiatan di dalamnya. Kamipun mengambil beberapa gambar untuk mengabadikan momen yang menarik ini sebagai kenang – kenangan.

IMG_20150214_232101
20150214_134013 Take a picture

    

IMG_20150215_003405
Jembatan Kayu Desa Setulang

Setelah puas mengambil gambar, kami meninggalkan Lamin Adat. Kamipun pulang dengan kembali menyusuri jalan desa yang sudah lumayan bagus dan bisa dilewati ini. Desa kecil dengan udara segar dan penataan yang teratur, ditambah lagi keberadaan lapangan di tengah desa tersebut. Di perjalanan pulang kami melewati sebuah jembatan kecil, yang terbuat dari papan kayu. Kami melewati jembatan tersebut dengan sangat hati – hati, alhamdulillah, meskipun terbuat dari kayu, jembatan ini masih terlihat kuat dan kokoh, mungkin pondasinya pakai semen itu tuhh…hhheheheh

Saat perjalanan pulang kami mampir ke Sungai Sentaban, sungai yang jernih airnya. Sebenarnya kurang yakin juga ada sungai jernih di sini, karena sungai yang sering kami lihat adalah sungai besar yang airnya kecoklatan. Lha wong air kran di mess aja kadang keruh airnya,,hehehhe.

Jembatan Sungai Sentaban
Pos Penjagaan

Kurang lebih 15 menit dari Desa Setulang kami sampai di Sungai Sentaban. Kamipun bergegas masuk melewati pos penjagaan yang kebetulan saat itu tidak ada yang jaga. Biaya retribusi 1000 rupiah sudah cukup untuk menikmati keindahan sungai ini.

20150214_142943
Segarnya Air Sungai Sentaban

Benar memang seperti yang teman saya ceritakan, airnya memang jernih dan bersih. Kami memarkir kendaraan di tepian sungai yang dangkal. Tampak batu – batu sungai yang jelas terlihat karena kejernihan airnya. Kami berdua mencoba menikmati keindahan pemandangan yang seakan kami tidak percaya kami berda di tempat yang benar – benar asri keberadaanya. Benar – benar mengagumkan tempat ini, sekali lagi kami mengambil napas dalam – dalam dan mencoba menikmati kesegaran udara yang ditawarkan alam Sungai Sentaban. Kamipun tak lupa mengambil gambar untuk mengabadikan kegiatan kami.

???????????????????????????????
Ga Puas Kalo ga Mandi

Tidak terasa, 30 menit sudah kami bermain air dan mengambil gambar di tempat tersebut, sinar matahari sudah mulai tertutupi awan mendung yang menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Kami memutuskan kembali ke mess dan meniggalkan tempat ini dengan rasa puas karena sudah diijinkan menikmati keindahan alam Sungai Sentaban.

Salam Wisata sambil Kerja

Malinau, 14 Februari 2015

Indarto

go to Malinau, Kalimantan Utara

Pagi ini cuaca sedikit mendung, badan juga terasa kurang fit. Secangkir kopi menemani awal pagi ini yang membuat badan terasa segar kembali.
Kesibukan memang membuat saya jarang sekali membuka blog ini, kalau tidak salah sudah 1 tahun lebih aku tidak membukanya.
Saat ini saya sedang berada di Kabupaten Malinau, tepatnya di Provinsi Kalimantan Utara, provinsi yang belum lama terbentuk di Pulau Borneo ini. Saya bekerja di sebuah perusahaan swasta yang terkenal di kabupaten ini, untuk sementara saya membantu proses administrasi untuk sala28112012(004)h satu proyek di Jempolon.

Pohon Mangris ( Pohon Madu )

Kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya terkait dengan Pohon Madu di Kalimantan. Kebetulan proyek yang kami kerjakan saat ini berada di bumi Kalimantan, tepatnya di Desa Seputuk Kabupaten Tana Tidung. Kami membuka hutan untuk kemudian membuat jalan yang menghubungkan ke desa tetangga, Desa Kapuak namanya. Ditempat kami bekerja, tentunya dikelilingi pohon – pohon yang lebat daunnya. Akan tetapi ada satu pohon yang menurut saya menarik dan terlihat unik, pohon Mangris kalau masyarakat di sini bilang. Pohon ini mempunyai ketinggian kurang lebih 15 meter, dengan daun yang tidak terlalu lebat. Batang dari pohon ini keras dan mempunyai kulit kayu yang terang, untuk lebih jelasnya liat gambar aja ya…Eia, sebelumnya masyarakat desa sini, adalah Suku Dayak, dayak Brusu tepatnya,hehehe…..
(kembali ke pohon madu) Masyarakat disini percaya, kalo pohon Mangris juga merupakan pohon kehidupan, karena tidak boleh sembarangan di tebang, mengingat ada manfaat yang lebih dari pohon tersebut, salah satunya adalah untuk tempat lebah madu membuat sarangnya. Dalam satu pohon, bisa terdapat sampai dengan lima buah sarang lebah dengan ukuran yang berbeda-beda tentunya. Madu yang dihasilkan dari sarang lebah ini, banyak sekali manfaatnya,diantaranya untuk menyembuhkan batuk dan pilek untuk anak-anak dengan cara meminumnya, sedangkan bagi orang dewasa, bisa juga menghilangkan jerawat dengan cara mengoleskannya ke wajah yang berjerawat.
Untuk mengetahui madu itu asli atau tidak, kita bisa menuangkannya sedikit di atas kertas koran, kemudian tunggu beberapa saat, jika madu tersebut asli, maka kertas koran tersebut tidak robek terkena madu tersebut. Selain cara tersebut, ada satu cara lagi yang saya ketahui, yaitu dengan cara melihat gas yang ditimbulkan dari madu tersebut. Caranya adalah isi penuh madu ke dalam botol air mineral dengan isi 600 ml, tutup rapat, simpan ditempat yang tidak terkena sinar matahari langsung, kemudian tunggu satu hari, keesokan harinya tutup tersebut dibuka, apabila terdengar suara gas yang ditimbulkan ketika tutup dibuka, maka bisa dipastikan madu tersebut asli.
Tapi untuk lebih mempercayai madu tersebut asli atau tidak, kita bisa melihat langsung pada waktu panen madu, oleh karena itu, mari bekunjung ke Kabupaten Tana Tidung di Kalimantan Timur,
Selamat berlibur 😀

Gunung Rian Kalimantan Timur

GambarGambarGambarGambarGambarGambarGambar

Gunung Rian adalah salah satu gunung yang memiliki keindahan alam hutan hujan tropis yang terletak di Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Tana Tidung. Gunung yang memiliki keindahan alam yang luar biasa ini terdapat di Desa Kapuak, akan tetapi tidak banyak penduduk setempat yang tinggal di dekat gunung ini. Lebatnya hutan yang belum banyak orang mengunjunginya, semakin menambah nilai eksotisme gunung ini. Pesona lain gunung ini adalah terdapatnya air terjun tujuh tingkat yang indah dan menjulang tinggi. Perjalanan menuju tempat ini bisa dibilang cukup mudah, dari Tarakan kita bisa naik speedboat dan turun di pelabuhan Kabupaten Tana Tidung (KTT), setelah itu dilanjutkan perjalanan darat kurang lebih 28 km ke arah Malinau. Disepanjang jalan menuju gunung ini, kita dapat melihat  keindahan alam hutan Kalimantan, udara yang masih segar tanpa polusi, semakin menenangkan pikiran kita. Disepanjang jalan kita juga bisa melihat perkembangan pembangunan KTT yang mulai membangun pusat pemerintahannya. Jika beruntung, di perjalanan kita juga bisa melihat burung enggang yang biasa hinggap di ranting pohon. Suasana hutan tropis yang indah menjadikan perjalanan menuju Gunung Rian terasa singkat. Gambar air terjun yang saya tampilkan merupakan air terjun tingkat pertama, untuk menuju tingkat teratas sangatlah sulit, karena tebing yang dilalui sangatlah terjal. Akan tetapi kita tidak perlu kecewa, karena ditingkat pertama kita sudah dimanjakan air terjun yang indah dan menyegarkan. Saya juga mengingatkan bagi pengunjung untuk berhati – hati ketika hendak menuju air terjun, karena jika kondisi hujan, tanah menuju tempat tersebut sangatlah licin, jadi jika berkunjung ke Gunung Rian sebaiknya pada musim kemarau…
itulah singkat cerita tentang Gunung Rian yang terletak di Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Timur. Selamat berlibur  \ ^_^/